Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tahun 2009 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan, pada pasal 4 ayat 1 disebutkan bahwa “Beban kerja guru yang diangkat dalam jabatan Pengawas Satuan Pendidikan adalah melakukan pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan pengawas” selanjutnya pada ayat 3 dinyatakan “Pengawas sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi: a. mengawasi, memantau, mengolah dan melaporkan hasil pelaksanaan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan pada Satuan Pendidikan”
Berdasarkan Permendiknas Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/ Madrasah, dalam lampiran dinyatakan bahwa kualifikasi pengawas TK/RA, SD/MI minimum S1 atau D IV dan kualifikasi Pengawas SMP/MTs, SMA/MA dan SMK/MAK berpendidikan minimum S2 dan memiliki kompetensi :
• Kompetensi Kepribadian.
• Kompetensi Supervisi Manajerial.
• Kompetensi Supervisi Akademik.
• Kompetensi Evaluasi Pendidikan.
• Kompetensi Penelitian dan Pengembangan.
• Kompetensi Sosial.
Sebagai suatu sistem, pendidikan memiliki komponen-komponen yang saling terkait secara sistematis satu dengan lainnya, yaitu input, proses, output dan outcome serta konteks yang semuanya tidak luput dari pemantauan dan penilaian.
Input adalah segala sesuatu yang harus tersedia dan siap untuk berlangsungnya proses. Sesuatu yang dimaksud tidak harus berupa barang, tetapi dapat berupa perangkat lunak dan harapan-harapan sebagai pemandu berlangsungnya proses. Secara garis besar input dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu : (1) harapan-harapan, (2) sumber daya yang terdiri dari sumber daya manusia dan sumber daya selebihnya (uang, perlengkapan, peralatan dan bahan), dan (3) input manajemen, terdiri dari tugas, rencana, program, regulasi (ketentuan-ketentuan, prosedur kerja, batas waktu, dan sebagainya) dan pengendalian atau tindakan turun tangan.
Esensi dari penilaian input adalah untuk mendapatkan informasi tentan “ketersediaan dan kesiapan” input sebagai prasyarat untuk berlangsungnya proses.
Proses adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Proses terdiri dari proses pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajar mengajar, dan proses akuntabilitas. Dengan demikian fokus penilaian pada proses adalah pemantauan implementasinya, sehingga dapat ditemukan informasi tentang konsistensi atau inkonsistensi antara disain / rancangan semula dengan proses implementasi yang sebenarnya.
Output adalah berupa hasil nyata yang diperoleh. Hasil nyata dimaksud dapat berupa prestasi akademik maupun prestasi non akademik. (Imtaq, kejujuran, kedisiplinan, prestasi olahraga, prestasi kesenian dan kerajinan).
Jadi fokus penilaian output adalah mengevaluasi sejauh mana sasaran (immediate objectives) yang diharapkan dari segi kualitas, kuantitas dan waktu telah dicapai. Dengan kata lain, sejauhmana “hasil nyata sesaat” sesuai dengan hasil/sasaran yang diharapkan. Tentu saja makin besar keseniannya, makin besar pula kesuksesannya.
Konteks adalah eksternalitas sekolah berupa permintaan dan dukungan (demand and support) yang berpengaruh pada input sekolah. Dalam istilah lain, konteks sama artinya dengan istilah kebutuhan, dengan demikian penilaian terhadap konteks sama dengan penilaian tentang kebutuhan. Alat yang tepat untuk evaluasi konteks adalah penilaian kebutuhan (need assesment).
Monitoring, supervisi dan penilaian sekolah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu internal dan eksternal. Yang dimaksud dengan monitoring, supervisi dan penilaian internal adalah yang dilakukan oleh sekolah sendiri yaitu kepala sekolah, guru, siswa, orang tua siswa, dan warga sekolah lainnya. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat kemajuan dirinya sendiri (sekolah) sehubungan dengan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Dengan cara ini diharapkan sekolah memahami tingkat ketercapaian sasaran, menemukan kendala-kendala yang dihadapi dan catatan-catatan bagi penyusunan program selanjutnya. Sedangkan monitoring, supervisi dan penilaian eksternal dapat dilakukan oleh pihak luar sekolah, misalnya, pengawas, dinas pendidikan yang hasilnya dapat digunakan untuk rewards system terhadap individu, sekolah dalam rangka meningkatkan iklim kompetisi sehat antar sekolah, kepentingan akuntabilitas publik, bagi perbaikan sistem yang ada keseluruhan dan membantu sekolah dalam mengembangkan dirinya.
Kegiatan supervisi kegiatan manajerial meliputi pembinaan dan pemantauan pelaksanaan manajemen sekolah merupakan kegiatan dimana terjadi interaksi langsung antara pengawas satuan pendidikan dengan kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya. Kegiatan ini dilaksanakan di sekolah binaan. Pelaksanaan pembinaan dengan menggunakan format dan instrumen yang ditentukan oleh dinas pendidikan di kabupaten/kota bersangkutan. Kegiatan supervisi pemantauan meliputi pemantauan dan pembinaan pelaksanaan SNP merupakan kegiatan dimana terjadi interaksi langsung antara pengawas satuan pendidikan dengan kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya. Kegiatan ini dilaksanakan di sekolah binaan. Pelaksanaan pembinaan dengan menggunakan format dan instrumen yang ditentukan oleh dinaspendidikan di kabupaten/kota bersangkutan.
Selasa, 26 April 2011
Senin, 11 April 2011
Psikologi pendidikan membantu siswa berkembang
Sebagai guru, kita memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan anak-anak dan remaja.
^ ^
-
^ ^
-
1.Belajar dengan mengamati
Implikasinya dalam pendidikan ,bantulah siswa menguasai perilaku baru dengan cepat memberi contoh perilaku.
contoh: Peragakan contoh-contoh yang tepat untuk menyikapi dan menyelesaikan konflik interpersonal,kemudian mintalah siswa bermain peran dalam kelompok tentang penyelesaian konfli, dan berikan pujian bagi mereka yang menggunakan strategi-strategi yang bersifat proporsinal
2.Belajar sebagai proses internal yang bisa (dan bisa juga tidak) tercermin dalam perilaku.Ingatlah bahwa hasil pembelajaran yang baru tidak selalu nampak seketika , melainkan bisa tercermin dalam perilaku siswa kelak dikemudian hari.Contoh :
Ketika seorang siswa terlibat dalam perilaku yang mengganggu dikelas , ambilah langkah-langkah yang tepat untuk mencegah dan mengurangi perilaku tersebut .kalau tidak siswa lain menyaksikan perilaku tersebut akan meniru perilaku yang sama pada kesempatan lain.
3.Pengaruh timbal-balik antara variabel lingkungan,perilaku,dan individu. Doronglah siswa membuat pilihan-pilihan yang akan mengarah pada pengalaman-pengalaman belajar bermanfaat . Contohnya : jelaskan manfaat yang akan diperoleh apa bila mengikuti kelas menulis tingkat lanjut , tidak hanya sekedar sarana meningkatkan keterampilan menulis melainkan juga sebagai cara untuk menemukan apakah seseorang senang berkarir dalam dunia tulis menulis atau tidak
4.Perilaku yang berorientasi tujuan. Doronglah siswa menetapkan tujuan -tujuan yang produktf bagi diri mereka sendiri khususnya yang menantang namun dapat dicapai Contoh :
Ketika mengajarkan bahasa isyarat untuk membantu siswa berkumunikasi dengan teman kelas yang mengidap Tuna Rungu,mintalah mereka meramalkan berapa bayak kosakata atau frase baru yang mereka dapat kuasai setiap minggu
5. Pengaturan perilaku oleh diri sendiri (self-regulation of behavior).Ajari siswa strategi-strategi untuk membantu diri mereka sendiri berperilaku secara tapat dan belajar secara efektif .Contoh
Beri siswa saran-saran yang konkrit mengenai cara mereka agar tidak lupa membawa perlengkapan -perlengkapan kesekolah yang diperlukan setiap hari
Langganan:
Komentar (Atom)